DewiParwati, diperisteri oleh raja Mandiminyak dari Galuh, Radiyah Narayana, menjadi menantu raja Jayasinghanegara dari Keling. 3. Maharani Sima (674-695) Bergelar Sri Maharani Mahisa Suramardini Satyaputikeswara. Beliau adalah Raja yang terkenal dari kerajaan Kalingga. Pada masa pemerintahannya, Hukum dan Keadilan diterapkan secara disiplin. Usahayang dilakukan Air Langga dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat Medang, antara lain : 1.Memperbaiki pelabuhan Hujung Galuh, di muara Kali Brantas. 2.Membangun waduk waringin sapta untuk mencegah banjir musiman 3.Membangun jalan-jalan yang menghubungkan pesisir ke pusat kerajaan Penyebab Keruntuhan KerajaanMedang Kamulan Kerajaan ini merupakan hasil pemindahan kerajaan Mataram Kuno akibat bencana alam gunung Merapi, dan yang mendirikan adalah Mpu Sindok . Selama masa pemerintahan Mpu Sindok, wilayah kekuasaan kerajaan Medang Kamulan meliputi hampir seluruh wilayah Jawa Timur, seperti Nganjuk bagian barat, Pasuruan bagian timur, Surabaya KERAJAANMEDANG KAMULAN DAN KERAJAAN KEDIRI Nama Kelompok: LitaniaKusumaningrum MarwaIrfan H Maryati Mila IntanL KEHIDUPAN SOSIAL • Kehidupan sosial kemasyarakatan pada zaman Kerajaan Kediri dapat kita lihat dalam kitab Ling-Wai-Tai-Ta yang disusun oleh Chou Ku-Fei pada tahun 1178 M. Kitab tersebut menyatakan bahwa masyarakat Kediri Faktorlain yang menjadikan Sriwijaya menjadi kerajaan besar adalah kehidupan sosial masyarakatnya meningkat dengan pesat terutama dalam bidang pendidikan dan hasilnya Sriwijaya terbukti menjadi pusat pendidikan dan penyebaran agama Budha di Asia Tenggara. Pada tahun 1017 M kerajaan Medang pada masa Dharmawangsa mengalami pralaya/kehancuran Dibawah pemerintahan Raja Dharmawangsa, Kerajaan Medang Kamulan menjadi pusat aktifitas pelayaran perdagangan di indonesia Timur. Namun akibat serangan dari Kerajaan Wurawari, segala perekonomian Kerajaan Medang Kamulan mengalami kehancuran. Kehidupan Sosial dan Ekonomi. KehidupanPolitik Kerajaan Bali. Pada awal tahun 989 hingga 1011, Kerajaan Bali dipimpin oleh Udayana yang mempunyai tiga orang putra bernama Airlangga, Marakatapangkaja, dan Anak Wungsu. Kelak, Airlangga nantinya akan menjadi raja terbesar dari Kerajaan Medang Kamulan di Jawa Timur. foV6s. Jakarta - Indonesia memiliki berbagai kerajaan di masa lampau, salah satunya kerajaan Medang. Kerajaan ini terletak di Jawa Timur dan merupakan lanjutan dari Kerajaan Mataram Kuno di Jawa ini juga dikenal dengan nama Kerajaan Medang Kamulan. Banyak peninggalan Kerajaan Medang Kamulan yang menjadi saksi sejarah berdirinya kerajaan Hindu ini. Berikut fakta-fakta Kerajaan Medang1. Sejarah Kerajaan MedangKerajaan Medang berdiri di Jawa Timur pada abad ke-10 dengan Ibu Kota Wantan Mas yang terletak di kawasan sungai Brantas. Sebelumnya, Kerajaan Medang berdiri di Jawa Tengah dengan nama Kerajaan kerajaan harus pindah ke Jawa Timur karena letusan Gunung Merapi menghancurkan Kerajaan Mataram. Berdasarkan Prasasti Mantyasih, raja pertama Kerajaan Medang saat berada di Jawa Tengah adalah Rakai Mataram Sang Ratu kejayaan terjadi pada tahun 898-910 masehi. Kala itu, Kerajaan Medang dipimpin oleh Raja Balitung dan memiliki kekuasaan meliputi Bagelen di Jawa Tengah hingga Malang di Jawa itu, ada juga yang menyebutkan puncak kejayaan Kerajaan Medang terjadi pada masa Raja Airlangga. Hal itu tertulis dalam kitab Arjunawiwaha karya Mpu Raja Kerajaan MedangSistem pemerintahan Kerajaan Medang Kamulan adalah monarki atau sistem pemerintahan kerajaan. Ada beberapa raja yang tertulis dalam sejarah kehidupan politik Kerajaan Medang Kamulan setelah pindah ke Jawa pertama Kerajaan Medang di Jawa Timur bernama Mpu Sindok. Raja ini memerintah bersama sang istri Sri Wardhani Pu Kbih selama lebih dari 20 banyak kebijakan yang dikeluarkan Mpu Sindok demi menjaga keberlangsungan hidup Kerajaan Medang, misalnya membangun bendungan hingga Kerajaan Medang juga pernah dipimpin oleh Raja Dharmawangsa Teguh yang merupakan cucu Mpu Sindok. Raja ini dikenal sangat peduli terhadap Raja Dharmawangsa pernah menurunkan tentara guna merebut perdagangan yang dikuasai oleh Kerajaan Sriwijaya. Sayang, pertempuran tersebut nihil dan justru mengundang serangan serangan balik tersebut, Raja Dharmawangsa terbunuh. Kejadian ini dikenal sebagai penyerangan Pralaya. Selepas dari itu, Kerajaan Medang dipimpin oleh Raja Airlangga merupakan keponakan dari Raja Dharmawangsa. Ia merupakan anak dari Raja Bali Udayana yang menikah dengan Mahendradatta atau saudara dari Raja Raja Airlangga karena seluruh keluarga Raja Dharmawangsa telah terbunuh dalam penyerangan Pralaya. Sehingga Airlangga berusaha untuk membalas dendam dan mengembalikkan kehormatan dari Kerajaan Airlangga berhasil memulihkan Kerajaan Medang dengan menaklukan raja-raja di bawah Kerajaan Sriwijaya. Ia pun memindahkan Ibu Kota Kerajaan Medang ke Keruntuhan Kerajaan MedangRuntuhnya Kerajaan Medang Kamulan dimulai setelah dipimpin oleh Raja Airlangga. Kerajaan tersebut terpaksa dibagi menjadi dua kerajaan, yakni Kerajaan Janggala dan Kerajaan tersebut dilakukan oleh Raja Airlangga guna mencegah terjadinya perang saudara. Diketahui, sang putri dari permaisuri Raja Airlangga memutuskan untuk tidak terlibat dalam kerajaan dan menjadi seorang Kerajaan Medang diberikan putra-putra dari selir Raja Airlangga. Sehingga sejarah Kerajaan Medang berakhir di zaman pemerintahan PeninggalanAda banyak peninggalan Kerajaan Medang Kamulan yang tercatat oleh sejarah. Pertama Prasasti Mpu Sindok yang menceritakan kehidupan politik Kerajaan Medang Kamula di masa Mpu Prasasti Bangli yang menceritakan pembangunan candi sebagai tempat peristirahatan sang mertua dari Mpu Sindok, Rakyan prasasti, Kerajaan Medang juga memiliki peninggalan candi seperti, Candi Prambanan, Candi Kalasan, dan Candi Ijo yang terletak di Jawa Tengah. pay/erd Oleh Rina Kastori, Guru SMP Negeri 7 Muaro Jambi, Provinsi Jawa Tengah KOMPAS - Kerajaan Medang Kamulan merupakan kelanjutan dari Kerajaan Mataram Kuno di Jawa Tengah. Kerajaan Medang Kamulan terletak di Jawa Timur tepatnya di muara Sungai Brantas dengan Watumas sebagai ibu kotanya. Dilansir dari buku Mengenal Kerajaan-Kerajaan Nusantara 2009 oleh Deni Prasetyo, Kerajaan Medang Kamulan didirikan oleh Mpu Sindok setelah memindahkan pusat pemerintahannya dari Jawa Tengah ke Jawa Timur sekitar abad ke-9 Masehi. Mpu Sindok sebenarnya keturunan raja-raja Dinasti Sanjaya yang berkuasa di Mataran Lama. Karena ada tekanan dari Sriwijaya dan bencana alam, Mpu Sindok memutuskan untuk memindahkan pusat pemerintahannya ke Jawa Timur. Mpu Sindok kemudian merintis duinasti baru dengan gelar nama Mpu Sindok Isyanattunggadewa yang kemudian memerintah di Medang Kamulan selama satu abad. Sekaligus menjadi raja pertama di Kerajaan Medang juga Perkembangan Kerajaan Pajang dan Mataram Kejayaan Kerajaan Medang Kamulan Dalam pemerintahannya, Mpu Sindok bersama permaisuri, Sri Wardhani terus berusaha membuat rakyat Medang hidup sejahtera dan makmur. Mpu Sindok mulai membangun bendungan dan tanggul untuk meningkatkan pertanian. Setelah Mpu Sindok wafat, pemerintahan kerajaan digantikan oleh Sri Isyana Tunggawijaya selaku putri dari Mpu Sindok. Sri Isyana Tunggawijaya kemudian menikah dengan Raja Lokapala dan melahirkan anak laki-laki bernama Makutawangsawardhana yang kemudian naik takhta menggantikan ibunya. Makutawangsawardhana memiliki dua orang anak, yaitu putri bernama Mahendradatta yang terkenal karena kecantikannya dan Dharmawangsa Teguh. Putri Mahendradatta menikah dengan Raja Udayana yang memerintah di Bali dan kemudian melahirkan anak bernama Airlangga. Kerajaan Medang Kamulan merupakan kelanjutan dari kerajaan Mataram Kuno. Kerajaan Medang Kamulan bukan diperintah oleh wangsa dari Mataram Kuno, melainkan wangsa lain. Kerajaan Medang Kamulan berdiri di Jawa Timur pada abad ke 10. Kerajaan ini merupakan kelanjutan dari Wangsa Sanjaya Kerajaan Mataram Kuno yang ada di Jawa Tengah yang memindahkan kekuasaan ke wilayah Jawa Timur. Pemindahan Mataram Kuno ke Jawa Timur diperkirakan terjadi karena adanya letusan gunung merapi pada tahun 929 M. Dari beberapa sumber menjelaskan bahwa wilayah Medang Kamulan berada di Watu Galuh, tepi Sungai Brantas yang beribukota di Watan Mas yang sekarang merupakan wilayah Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Mpu Sendok merupakan raja pertama Kerajaan Medang Kamulan sekaligus pendiri Wangsa Isyana yang menurunkan raja – raja Medang selanjutnya. Wangsa Isyana memerintah selama 1 abad sejak tahun 929 M. Wilayah KekuasaanSumber SejarahKehidupan PolitikKehidupan Ekonomi Kehidupan Sosial BudayaPeninggalan KerajaanRuntuhnya Medang KamulanRelated posts Wilayah Kekuasaan Wilayah kekuasaan Medang Kamulan mencakup beberapa wilayah, diantaranya Nganjuk disebelah barat, Pasuruan disebelah timur, Surabaya disebelah utara, dan Malang disebelah selatan. Dalam perkembangannya, wilayah Medang Kamulan semakin luas mencakup hampir seluruh wilayah Jawa Timur. 1. Berita Asing Berita India mengatakan bawa Kerajaan Sriwijaya menjalin hubungan persahabatan dengan Kerajaan Chola. Hubungan ini untuk membendung dan menghalangi kemajuan Kerajaan Medang Kamulan yang pada saat itu dipimpin oleh Cina yang ditulis oleh Dinasti Sung menyatakan bahwa terjadi permusuhan antara kerajaan di Jawa dan Sriwijaya sehingga duta Sriwijaya yang berada di Negeri Cina 990 M terpaksa harus tinggal dulu di Campa sampai peperangan reda. Pada tahun 992 M pasukan Jawa meninggalkan Sriwijaya dan pada saat itu Kerajaan Medang Kamulan dapat memajukan pelayaran dan perdagangan. 2. Prasasti Prasasti Tangeran 933 M berasal dari Desa Tangeran, Jombang, yang berisi bahwa Mpu Sendok memerintah bersama permaisurinya Sri Bangil yang berisi perintah Mpu Sendok untuk membangun tempat peristirahatan mertuanya, Rakryan Lor 939 M dari Lor, dekat Nganjuk yang berisi perintah Mpu Sendok dalam membangun Candi Jayamrata dan Jayamstambho tugu kemenangan di Desa Anyok Kalkuta yang berisi hancurnya istana Dharmawangsa dan memuat silsilah raja Medang Kamulan. Kehidupan Politik Mpu Sindok 929 – 949 M merupakan raja pertama yang memerintah Medang Kamulan selama 20 tahun. Mpu Sindok bergelar Sri Maharaja Raka i Hino Sri Isana Wikrama Dharmatunggadewa. Dalam memerintah kerajaan Medang Kamulan dibantu oleh permaisurinya bernama Sri Wardhani Pu Kbin. Mpu Sindok merupakan raja yang bijaksana. Kebijakan Mpu Sindok diantaranya membangun bendungan atau tanggul untuk pengairan, melarang penangkapan ikan pada siang hari guna pelestarian sumberdaya alam, melakukan pengubahan kitab Buddha Mahayana menjadi kitab sang hyang Isyana Tunggawijaya atau bernama Sri Lokapala 947-9xx MSri Makutawangsawardhana 9xx-985 MDharmawangsa Teguh 990 – 1016 M merupakan cucu Mpu Sindok. Ia memiliki tekat memperluas wilayah perdagangan hingga ke kekuasaan Sriwijaya. Salah satu penghalang berkembangnya Medang Kamulan pada masa pemerintahan Dharmawangsa adalah keberadaan Kerajaan Sriwiaya. Medang Kamulan sempat menyerang Sriwijaya, namun gagal. Bahkan Kerajaan Sriwjaya melakukan serangan balik melalui serangan Kerajaan Wurawari atau dinamakan Pralaya Medang. Pada peristiwa ini Dharmawangsa / Erlangga 1019 – 1042 M merupakan putera dari raja Bali Udayana dan Mahendradatta, saudari Dharmawangsa Teguh. Ia dinikahkan dengan putri Dharmawangsa Teguh ketika terjadi Pralaya Medang. Ketika terjadi Pralaya Medang, Airlangga melarikan diri ke hutan Wonogiri, hingga 1019 M ia dinobatkan sebagai raja. Airlangga memulihkan kewibawaan dan kekuasaan Medang Kamulan dengan mengalahkan raja – raja terdahulu seperti raja Bisaprabhawa 1029, raja Wijayawarman 1030, raja Adhamapanuda 1031, dan raja Wuwari 1035. Kebijakan Airlangga diantaranya memperbaiki pelabuhan Hujung Galung yang teretak di Kali Brantas, membangun Waduk Waringin Sapta guna mencegah banjir, membangun jalan antara pesisir dengan pusat kerajaan. Kerajaan Medang Kamulan mencapai masa kejayaan pada pemerintahan Airlangga. Kehidupan Ekonomi Mpu Sindok memerintah membangun bendungan dan kebijakan lain. Pada pemerintahan Dharmawangsa menginginkan peningkatan perdagangan dan pertanian. Begitu pula pada masa pemerintahan Airlangga yang berusaha memperbaiki Pelabuhan Hujung Galuh di muara Sungai Berantas dengan memberi tanggul – tanggul untuk mencegah banjir. Kehidupan Sosial Budaya Dalam bidang sastra, Mpu Sindok mengizinkan penyusunan kitab Sanghyang Kamahayamikan Kitab suci agama Buddha, padahal Mpu Sindok sendiri beragama Hindu. Pada masa pemerintahan Airlangga dikembangkan kitab Arjunawiwaha yang dikarang Mpu Kanwa. Begitu pula seni wayang yang berkembang dengan baik di Medang Kamulan diambil dari epic Ramayana dan Mahabarata yang ditulis ulang dan dipadukan menggunakan budaya Jawa. Peninggalan Kerajaan Berikut merupakan peninggalan kerajaan Medang Kamulan Pertapaan Pucangan yang berada di Gunung Penanggungan, terdapat prasasti yang berbahasa Sansekerta dan Jawa Kuno, merupakan peninggalan dari pemerintahan raja Airlangga yang berisi penjelasan tentang peristiwa serta silsilah keluarga raja secara berurutan. Prasasti ini disebut prasasti kalkuta, karena prasasti ini disimpan di Museum India di kota Kalkuta, India. Candi Lor Anjuk Ladang berada di wilayah Brebek, Nganjuk yang berisi bahwa Mpu Sindok memerintahkan Rakai Hinu Sahasra, Rakai Baliswara serta Rakai Kanuruhan pada tahun 937 untuk membangun sebuah bangunan suci bernama Srijayamerta sebagai tanda penetapan area AnjukLadang sekarang dinamakan Nganjuk sebagai area swatantra atas jasa warga Anjuk Ladang dalam peperangan. Di situs ini ditemukan Prasasti Anjuk Ladang yang disimpan di Museum Anjuk Gunung Gangsir terletak di wilayah Bangil yang dibangun pada masa pemerintahan Airlangga sekitar abad 11 M. Candi Gunung Gangsir dibangun menggunakan batu bata, bukan batu Songgoriti terletak di Batu, Malang merupakan satu – satunya peninggalan Mpu Sindok di Kota Batu. Cerita yang beredar, kisah Candi Songgoriti berawal dari keinginan Mpu Sindok yang ingin membangun tempat peristirahatan bagi keluarga kerajaan di pegunungan yang terdapat mata airnya. Seorang petinggi kerajaan yang bernama Mpu Supo diperintahkan untuk membangun tempat tersebut. Dengan upaya yang keras, Mpu Supo menemukan kawasan yang sekarang dikenal dengan kawasan Wisata Songgoriti. Atas persetujuan, Mpu Supo membangun kawasan tersebut menjadi tempat peristirahatan yang sekarang dikenal dengan nama kawasan Belahan dibangun pada masa pemerintahan Airlangga pada abad ke 11. Petirtaan Belahan terletak disisi timur Gunung Penanggungan tepatnya di Dusun Belahan Jowo, Wonosunyo, Kecamatan Gempol. Menurut sejarah,selain digunakan sebagai pertapaan Prabu Airlangga, petirtaan ini juga difungsikan sebagai pemandian para selir prabu Airlangga. Oleh karena itu, untuk menghormati dua selirnya, Airlangga membangun dua patung perlambang Dewi Laksmi dan Dewi Sri dengan patung seorang wanita telanjang dada dimana payudara patung tersebut mengalirkan air. Petirtaan ini diberi nama Sumber Wonoboyo merupakan salah satu temuan arkeologi terpenting di Indonesia dimana temuan ini terdapat penemuan logam mulia emas dan perak. Penemuan ini mengungkapkan kekayaan, ekonomi, serta pencapaian seni dan budaya Kerajaan Medang pada abad ke 9 emas ini menampilkan kesenian yang halus serta menunjukkan estetika emas kuno Jawa. Pada permukaan koin terdapat ukiran huruf “ta“, singkatan dari “tail” atau “tahil” unit mata uang Jawa Kuno. Ditemukan juga tulisan “Saragi Diah Bunga” dalam bahasa Kawi. Runtuhnya Medang Kamulan Airlangga mundur dari tahtanya pada tahun 1042 M dan memutuskan menjadi petapa dengan nama Resi Gentayu Djatinindra. Menjelang akhir pemerintahannya, raja Airlangga menyerahkan kekuasaannya kepada putrinya Sangrama Wijaya Tunggadewi. Namun, putrinya lebih memilih menjadi seorang pertapa dengan nama Ratu Giriputri. Tahta beralih ke keturunan Airlangga dari para selir. Untuk menghindari perang saudara, maka kekuasaan Medang Kamulan dibagi menjadi dua oleh Mpu Baradha yakni wilayah timur dari Surabaya hingga Pasuruan yang beribukota di Kahuripan Jiwana diberikan kepada Garasakan Jayengrana, dan wilayah barat meliputi Kediri hingga Madiun yang bernama kerajaan Kediri Panjalu yang beribukota di Kediri Daha. Related posts 4 Bantu kami untuk lebih berkembang dengan subcribe channel youtube idsejarah Perkembangan perekonomian Medang Kamulan cukup pesat karena aktifitas perekonomian yang dilakukannya melalui sungai brantas dan bengawan solo. Saat Dharmawangsa menjadi rasa perdagangan Kerajaan Medang menjadi lebih terkenal bahkan hingga keluar Jawa. Lagu Proklamasi R M S 10 Masalah Kebudayaan bukan merupakan masalah utama dalam kehidupan masyarakat di Kerajaan Sriwijaya. Kerajaan medang kamulan kehidupan ekonomi. Bahkan aktifitas perekonomian rakyatnya mencapai wilayah Indonesia Timur. Bahkan pada masa pemerintahan Dharmawangsa aktifitas perdagangan bukan saja di Jawa Timur tetapi berkembang ke luar wilayah jawa Timur. Perdagangan dan pelayaran barang dagangannya adalah porselen beras daging dan kayu pada masa pemerintahan Mpu Sindok dibangun sebuah bendungan yang berfungsi sebagai irigasi dan tempat memelihara ikan. Namun akibat serangan Kerajaan Wurawari segala kegiatan perekonomian Kerajaan Medang Kamulan mengalami Kehancuran. Menurut Prasasti Waharu IV 931 M dan Prasasti Garaman 1053 M Kerajaan Medang dan Kerajaan Kahuripan zaman Airlangga 1000-1049 M di Jawa mengalami masa kemakmuran panjang sehingga membutuhkan banyak tenaga terutama untuk membawa hasil. Mpu Sindok sengaja memindahkan kerajaannya di dekat Sungai Berantas. Toh yang berbeda hanya perpindahan wilayah kekuasaan dari barat ke timur. Hal ini bisa dilihat dari beberapa usaha yang dilakukan oleh raja-raja tersebut misalnya dalam bidang pengairan perdagangan dan lain-lainnya. Sistem pemerintahan Kerajaan Medang Kamulan dipimpin oleh raja-raja yang masih memiliki ikatan saudaraPemrintahannya memang selalu mengutamakan kepentingan rakyat dibandingkan orang-orang yang memiliki posisi dalam kekuasaan itu. Kemenangan yang diraih Kerajaan Sriwijaya membuat kondisi ekonomi di Medang Kamulan semakin merosot dan hancur. Hal ini bisa dilihat dari usaha-usaha yang ia lakukan seperti Mpu Sindok banyak membangun bendungan dan memberikan hadiah-hadiah tanah untuk pemeliharaan bangunan suci. Mpu Sendok memerintah dari tahun 929-947 M. Kebijakan Airlangga diantaranya memperbaiki pelabuhan Hujung Galung yang teretak di Kali Brantas membangun Waduk Waringin Sapta guna mencegah banjir membangun jalan antara pesisir dengan pusat kerajaan. Struktur sosial masyarakat dibedakan berdasarkan pembagian kasta. Dari sisi kehidupan ekonomi kerajaan Medang Kamulan bertumpu pada bidang Pelayaran dan perdagangan. Kehidupan rakyat Medang Kamulan menyerupai Mataram karena Medang Kamulan tak lain adalah kelanjutan Mataram hanya nama dinastinya saja yang berbeda. Kerajaan Medang Kamulan memiliki beberapa raja yang juga bisa dikatakan memiliki pemikiran maju untuk menyejahterakan rakyatnya. Kamulan berarti permulaan sehingga Medang Kamulan dapat diartikan sebagai pra-Medang. Masyarakat hidup berdampingan secara damai walaupun mereka berbeda agama. Kehidupan rakyat Medang Kamulan menyerupai Mataram karena Medang Kamulan tak lain adalah kelanjutan Mataram hanya nama dinastinya saja yang berbeda. Kerajaan Medang Kamulan berdiri di Jawa Timur pada abad ke 10. Rakyat dalam Kerajaan Medang Kamulan tersusun dalam sebuah hierarki. Artikel dan Makalah tentang Sistem Kehidupan Sosial dan Ekonomi Masyarakat Kerajaan Medang Kamulan Kahuripan – Dalam hal kepemilikan tanah transportasi perpajakan dan tenaga kerja. Sang pendiri Kerajaan Medang Kamulan yakni Mpu Sindok sudah dikenal sebagai orang sastrawan. Kerajaan ini terletak di muara sungai Brantas dengan ibukota Watan Mas Watu Galuh sekarang kira-kira wilayah Kabupaten Jombang. Kerajaan Medang Kamulan Kehidupan sosial dan Kehidupan Ekonomi kerajaan-kerajaan Hindu-Budha di. Kerajaan Medang Kamulan merupakan kelanjutan dari kerajaan Mataram Kuno. Kerajaan Medang Kamulan mencapai masa kejayaan pada pemerintahan Airlangga. Sistem Pemerintahan Kerajaan Medang Kamulan. Kehidupan Ekonomi Kerajaan Medang. Kerajaan Medang Kemulan Ekonomi. Kerajaan Medang Kamulan bukan diperintah oleh wangsa dari Mataram Kuno melainkan wangsa lain. Raja-raja yang memerintah memberikan perhatian bagi kehidupan sosial dan ekonomi rakyat. Kehidupan Sosial-Ekonomi Masyarakat Medang Kamulan Dalam hal kepemilikan tanah transportasi perpajakan dan tenaga kerja. Bahkan hamper tidak pernah ditemukan peninggalan-peninggalan kebudayaan yang berharga dari Kerajaan Sriwijaya. Terima kasih Sumber Sejarah Kehidupan sosial masyarakat Kerajaan Medang Kamulan sudah teratur. Kehidupan rakyat mulai sengsara hingga keruntuhan Kerajaan Medang Kamulan terjadi. Misalnya kebijakan Raja Airlangga yang dilakukan demi meningkatkan kesejahteraan rakyat. Pajak-pajak juga dibebaskan untuk dapat memelihara bangunan suci. Yang bertujuan agar rakyatnya bisa menjadi nelayan dan menjadi daerahnya sebagai pusat pelayaran dan perdagangan di Jawa Timur. Disisi kehidupan sosial kerajaan Medang Kamulan lebih banyak dipengaruhi oleh agama Hindu sehingga kehidupan sosial masyarakatnya dibagi berdasarkan tingkatan kasta. Kebudayaan berkembang dengan baik. Kehidupan Ekonomi Raja Mpu Sindok mendirikan ibu kota kerajaannya di tepi Sungai Brantas dengan tujuan menjadi pusat pelayaran dan perdagangan di daerah Jawa Timur. Ketika Raja Airlangga berhasil mengembalikan kekuatan Kerajaan Medang Kamulan kegiatan perekonomian kerajaannya mulai dibangun kembangun kembali. Di bawah pemerintahan Raja Dharmawangsa Kerajaan Medang Kamulan. Kehidupan ekonomi Kerajaan Medang Mataram Mpu Sindok memerintah dengan bijaksana. Ketika Medang Kamulan diperintah oleh Dharmawangsa perekonomian semakin berkembang pesat. Pada umumnya, kebanyakan orang menyebut nama Kerajaan Mataram Kuno atau Kerajaan Mataram Hindu adalah Kerajaan Medang. Melainkan Kerajaan Medang adalah kerajaan yang berdiri setelah Kerajaan Mataram Kuno runtuh pada awal abad ke-8. Lazimnya penggunaan nama Kerajaan Medang hanya pada periode Jawa Timur. Tapi menurut prasasti-prasasti peninggalan kerajaan ini, Kerajaan Medang pertama kali di dirikan di Jawa Tengah yang pendirinya adalah keturunan dari Kerajaan Mataram Kuno. Sejarah Kerajaan MedangLokasi, Letak Geografis dan Peta Wilayah Kerajaan MedangSilsilah raja-raja Kerajaan Medang1. Mpu Sindok2. Raja Sri Isyana Tunggawijaya3. Sri Makutawangsawardhana4. Dharmawangsa Teguh5. AirlanggaKehidupan di Kerajaan Medang1. Kehidupan Politik Kerajaan Medang2. Kehidupan Sosial Budaya Kerajaan Medang3. Kehidupan Agama Kerajaan Medang4. Kehidupan Ekonomi Kerajaan MedangMasa Kejayaan Kerajaan MedangPenyebab Runtuhnya Kerajaan MedangSumber Sejarah Kerajaan Medang1. Prasasti Mpu Sindok2. Prasasti Tengaran3. Prasasti Lor4. Prasasti Bangil5. Prasasti Kalkuta6. Berita dari Cina7. Berita dari IndiaPeninggalan Kerajaan Medang1. Prasasti Kalasan2. Prasasti Ratu Boko3. Prasasti Kedu Mantyasih4. Candi Pawon5. Candi Sewu6. Candi Mendut7. Candi Bima8. Candi Semar9. Candi Puntadewa10. Candi Arjuna11. Candi Srikandi12. Candi Borobudur13. Situs Medang Kerajaan ini berada di Pulau Jawa. Kadang kerajaan ini disebut sebagai kerajaan lanjutan dari Kerajaan Mataram Kuno. Sebenarnya ibukota dari Kerajaan Mataram Kuno atau Mataram Hindu yaitu Medang Kamulan. Nama kamulan merupakan perubahan dari suku kata “kamulyaan” atau “kemuliaan”. Namun, para peneliti ada yang mengatakan bahwa Medang Kamulan adalah ibukota dari Kerajaan Jenggala atau Kerajaan Kediri. Kerajaan Medang adalah kerajaan yang berdiri pada abad ke-8 dan didirikan oleh seorang awalnya pejabat istana yaitu Mpu Sindok. Jabatan Mpu Sindok cukup penting karena mempunyai posisi tertinggi sesudah raja yang bergelar Rakryan Mapatih Hino atau Rakryan Mahamantri i Hi. Keruntuhan Kerajan Mataram Kuno atau Mataram Hindu, memberi kesempatan untuk Mpu Sindok mendirikan Kerajaan Medang Kamulan dan membentuk Dinasti Isyana atau Wangsa Isyana. Dinasti ini sering dikatakan dinasti ketiga dalam sejarah Kerajaan Mataram Kuno, setelah Mpu Sindok mendirikan istana baru di Tamwlang pada tahun 929 M. Dalam prasasti peninggalan Mpu Sindok menjelaskan dengan tegas kelanjutan kerajaannya dari Kadatwan Rahyangta i Medang i Bhumi Mataram. Penguasa Mataram Kuno yang sebelumnya adalah Dyah Wawa bergelar Medang i Bhumi Mataram. Raja terakhir Kerajaan Mataram yaitu Dyah Wawa dulunya juga seorang yang menjabat pegawai pengadilan atau Sang Pamgat Momahumah yang melakukan kudeta. Kerajaan Medang yang awalnya berdiri di Jawa Tengah, tepat setelah Dyah Wawa turun tahtah, yang sekarang terletak di daerah Madiun. Pemindahan kerajaan ke Jawa Timur abad ke-10, melibatkan banyak hal dan sangat diperhitungkan. Tapi yang jadi faktor utama yaitu faktor topografi. Faktor tersebut karena meletusnya Gunung Merapi yang berada di Jawa Tengah. Bencana besar ini tercatat dalam sejarah. Musibah tersebut menghancurkan ibu kota Kerajaan Medang. Penduduk menamai peristiwa besar tersebut yaitu “Pralaya” atau Kehancuran Dunia. Tak hanya bencana letusan gunung, yang menjadi faktor pemindahannya. Karena pembangunan candi yang terus dilakukan membuat sektor pertanian yang biasanya dikerjakan para pria menjadi lemah. Akibatnya tenaga kaum pria habis digunakan untuk memahat candi,sawah pun tidak terurus. Lokasi, Letak Geografis dan Peta Wilayah Kerajaan Medang sumber Seperti yang telah dijelaskan bahwa Kerajaan Medang yang pada awalnya berdiri di Jawa Tengah atau Mdanj i Bumi Mataram. Namun, lokasi awalnya tidak diketahui dengan tepat, tapi diperkirakan berada di sekitar Yogyakarta dan Candi Prambanan. Lalu berpindah ke Poh Pitu dan Mamrati. Dan pada abad ke-10 berdasarkan ditemukannya beberapa prasasti, Kerajaan Medang pindah ke Jawa Timur dengan lokasi yang bermuara di Sungai Brantas. Dengan ibukota bernama Watan Mas. Ketika Mpu Sindok berkuasa, wilayah kekuasaannya meliputi wilayah Malang sebelah selatan, Pasuruan sebelah timur, Nganjuk sebelah barat dan Surabaya sebelah utara. Hebatnya Kerajaan Medang hampir menguasai wilayah Jawa Timur dan berhasil mempengaruhi daerah lain hingga Indonesia Timur. Silsilah raja-raja Kerajaan Medang Raja-raja yang pernah berkuasa di Kerajaan Medang di bawah Dinasti Isyana atau Wangsa Isyana yaitu sebagai berikut 1. Mpu Sindok sumber Sebagai raja pertama Mpu Sindok memerintah selama 20 tahun dengan gelar Sri Maharaja Rakai Hino Sri Isyana Wikrama Dharmatunggadewa. Mpu Sindok dibantu oleh istrinya yaitu Sri Wardhani Pu Kbin putri dari Dyah Wawa raja terakhir Kerajaan Mataram Kuno. Mpu Sindok merupakan keturunan Kerajaan Mataram Kuno dengan Dinasti Sanjaya di Jawa Tengah. Berbagai usaha dilakukan Mpu Sindok sebagai raja pertama untuk memperluas daerah kekuasaannya dan memakmurkan kerajaannya. Di antaranya yaitu membangun bendungan perairan dan waduk. Namun, Mpu Sindok melarang warganya untuk memancing ikan di waduk tersebut agar dapat melestarikan sumber daya alam yang ada. 2. Raja Sri Isyana Tunggawijaya sumber Sri Isyana Tunggawijaya merupakan raja perempuan yang memerintah pada tahun 947 masehi di Kerajaan Medang. Di masa pemerintahannya, Sri Isyana Tunggawijaya dibantu oleh suaminya yaitu Sri Lokapala. Tidak terlalu banyak informasi mengenai masa pemerintahannya, namun berdasarkan temuan Prasasti Pucangan, putra mereka yang bernama Sri Makuthawangsawardhana melanjutkan tahta sebagai raja. 3. Sri Makutawangsawardhana sumber Raja Kerajaan Medang Kamulan berikutnya dibawah pemerintahan Sri Makutawangsawardhana sekitar sebelum tahun 990 masehi. Makutawangsawardhana memiliki seorang putri bernama Mahendradatta. Tidak banyak pula informasi mengenai masa pemerintahannya. Beberapa sumber mengenai kehidupannya diketahui dari Prasasti Pucangan. Teori dari para sejarawan mengatakan bahwa Makutawangsawardhana memiliki dua orang anak yaitu Mahendradatta dan seorang lagi bernama Dharmawangsa. Hal ini diperkuat dengan temuan prasasti Sirah Keting yang menyebutkan bahwa Dharmawangsa adalah keluarga Wangsa Isyana. Mahendradatta menjadi permaisyuri di Bali dan Dharmawangsa Teguh menggantikan posisi Makutawangsawardhana untuk menjadi raja Kerajaan Medang Kamulan. 4. Dharmawangsa Teguh Prasasti Sirah Keting adalah prasasti yang menyatakan nama yang sebenarnya dari Prabu Dharmawangsa yaitu Wijayamreta Wardhana. Dalam Bahasa Sansekerta arti nama Dharmawangsa yaitu “dharmavaṃśa” yang artinya “keturunan Dharma”. Beliau jadi raja kedua di Kerajaan Medang menggantikan Mpu Sindok yang adalah kakek buyutnya. Ayah Dharmawangsa bernama Makutawangsawardhana adalah cucu dari Mpu Sindok,yang mempunyai dua orang anak. Yakni Mahendradatta dan Dharmawangsa. Mahendradatta dikirim ke Pulau Bali untuk menikah dengan Udayana raja Bali. Saat menjadi raja, Dharmawangsa bergelar Sri Maharaja Isana Dharmawangsa Teguh Anantawikramottunggadewa. Dharmawangsa dikenal sebagai seorang figur raja yang tegas dan terkenal dengan pandangan politik yang tajam. Selama pemerintahannya Dharmawangsa percaya dan bertekad menguasai bisa menguasai ekonomi seluruh Jawa Timur hingga Asia Tenggara. Namun, beliau merasa terganggu dengan kuatnya ekonomi Kerajaan Sriwijaya di Pulau Sumatra. Kedua kerajaan besar ini akhirnya bersaing ini menguasai ekonomi Asia Tenggara. Alhasil kedua kerajaan pun mengirimkan utusannya ke Tiongkok yang saat itu berada dalam kekuasaan Dinasti Song. Kerajaan Sriwijaya berangkat pada tahun 988, ketika hendak pulang mereka tertahan di pelabuhan Kanton karena negerinya diserang Kerajaan Medang. Dan pada tahun 992 pasukan Kerajaan Sriwijaya kembali ingin pulang tapi masih terhenti di Campa, karena terjadi penyerangan di negerinya. Utusan Kerajaan Medang akhirnya dikirim oleh Raja Dharmawangsa Teguh pada tahun 992, setelah ia naik takhta pada 991 M. Pada tahun yang sama yakni 992 M Kerajaan Medang mampu menguasai Palembang, tapi mampu dikalahkan oleh pasukan Sriwijaya. Prasasti Hujung Langit pada 997 M menyatakan ada serangan yang terjadi di Sumatra yang dilakukan Jawa. Kematian tragis terjadi pada Dharmawangsa Teguh yang dikenal dengan peristiwa “Mahapralaya” atau “kematian besar”. Saat itu ia sedang bergembira karena tengah melaksanakan pesta pernikahan putrinya dengan Airlangga pangeran dari Bali yang juga keturunan Mpu Sindok. Tanpa sepengetahuannya terjadi penyerangan dari Wurawari dari Lwaram dengan dukungan dan bantuan Kerajaan Sriwijaya. Konon Wurawari memiliki dendam pada Dharmawangsa karena lamarannya di sang raja. 5. Airlangga sumber Bergelar abhiseka Sri Maharaja Rakai Halu Sri Dharmawangsa Airlangga Anantawikramatunggadewa. Airlangga di angkat sebagai raja pada tahun 1019. Ia lahir pada tahun 990. Sang Ayah bernama Udayana, raja Kerajaan Bedahulu, Bali. Dan sang Ibu bernama Mahendradatta, seorang putri Wangsa Isyana dari Kerajaan Medang. Ibunya merupakan keturanan Mpu Sindok raja pertama Kerajaan Medang. Besar dengan dua adiknya yaitu Marakata dan Anak Wungsu yang jadi raja Bali secara bergantian pada tahun 1011 M dan tahun 1022 M. Beliau dinikahkan pada umur yang sangat belia 16 tahun, pada 1006. Calon istri Raja Airlangga merupakan putri pamannya Raja Dharmawangsa Teguh bernama Galuh Sekar. Ketika pesta pernikahan berlangsung di Watan ibu kota Kerajaan Medang, diserbu dan luluh lantakkan. Penyerbuan di lakukan oleh Raja Wurawari yang berasal dari Lwaram. Kerajaan Wuruwari dan Kerajaan Sriwija berkerja sama untuk menggulingkan Kerajaan Medang Kamulan. Sayangnya, penyerbuan tersebut mengakibatkan semua keluarga besar Raja Dharmawangsa Teguh mati, termasuk putrinya Galuh Sekar. Peristiwa yang membuat rakyat Kerajaan Medang Kamulan terpisah-pisah. Untungnya Airlangga berhasil kabur bersama pengikutnya yang setia yakni Mpu Narotama. Dalam pelarian selama berhari-hari mereka menuju pengunungan “Wanagiri” dan berteduh di sebuah gua. Lebih dari tiga tahun Airlangga dan pengikutnya terpaksa bersembunyi. Masa pertapaan pun mereka jalani dengan semampu mereka. Bertahan hidup seadanya di hutan dan gunung pun harus dilakukan. Rasa gelisah semakin mendera Airlangga ketika ada seorang utusan rakyat yang datang menghampirinya ke hutan. Ia membawa pesan dari rakyat Kerajaan Medang yang masih setia padanya. Mereka mengatakan keadaan kerajaan belum terjamin. Orang-orang jahat berpesta-pora kegirangan menindas rakyat-rakyat yang lemah dan yang tidak memiliki kekuasaan apapun. Dengan semangat yang membara dan bantuan dari pengikutnya serta nasib rakyat yang harus di sejaterahkan, Airlangga memutuskan untuk kembali merebut Kerajaan Medang. Dan saat itu juga Airlangga dinobatkan sebagai raja. Pekerjaannya memang tidaklah mudah menyatukan kembali kerajaan yang sempat hancur bukanlah perkara mudah. Ada beberapa bupati-bupati yang membandel tidak ingin kembali menjadi satu kerjaraan. Akhirnya setelah perjalanan, peperangan, pertumpahan darah sana-sani bupati yang membandel tunduk dan taat pada pemerintahan Raja Airlangga. Kehidupan di Kerajaan Medang Seluk-beluk kehidupan Kerajaan Medang dapat ditinjau dari beberapa aspek kehidupan masyarakatnya. 1. Kehidupan Politik Kerajaan Medang Kerajaan Medang sistem pemerintahannya yaitu menurunkan tahtanya pada keturunan selanjutnya. Hanya ada lima raja yang pernah berkuasa di kerajaan tersebut. Tapi kelima raja tersebut mampu membuat kerajaan yang dibawahi menjadi besar dan makmur. Mpu Sindok pendiri Kerajaan Medang yang berkuasa selama 20 tahun, mulai tahun 929 M – 949 M, terkenal dengan kebijakan dan ketertarikan beliau terhadap sastra. Terbukti dari beberapa prasasti peninggalannya. Raja Dharmawangsa 990 M – 1016 M ,raja yang dikenal dengan pandangan politiknya yang tajam. Serta melakukan perubahan besar dalam sektor pertanian dan perdagangan. Tapi dihalangi oleh Kerajaan Sriwijaya. Setelah kematian Dharmawangsa, ia digantikan menantunya yang cukup lama berkuasa di bandingkan raja- raja sebelumnya. Yakni Raja Airlangga yang berkuasa dari 1019 M – 1042 M. Airlangga sangat memperhatikan kehidupan rakyatnya. Ia membangun Waduk Waringin Sapta untuk pencegahan banjir dan membangun beberapa jalan untuk memudahkan akses bagi rakyatnya. Airlangga juga berhasil menaklukkan kerajaan yang berada di sekitar wilayahnya. Penaklukan tersebut dilakuakn secara berkala. Mulai pada tahun 1029 M Arilangga dan pasukannya melanukkan Raja Bisaprabhawa. Lalu pada tahun 1030 berhasil menduduki kerajaan yang di pimpin Raja Wijayawarman. Setahun kemudian tepatnya 1031 mengalahkan Raja Adhamapanuda. Dan pada 1035 M Arilangg berhasil membalaskan dendamnya pada Raja Wuwari yang pernah melakukan penyerangan di hari pernikahanya. 2. Kehidupan Sosial Budaya Kerajaan Medang Mpu Sindok diketahui sedari muda tertarik dengan bidang sastra. Ia pun menuliskan dan menyusun kitab Sanghyang Kamahayanikan Kitab Suci Agama Buddha, sedang beliau sendiri beragama Hindu. Raja Airlangga dikenal karena memiliki kepedulian yang tinggi terhadap rakyatnya. Termasuk kepedulian nya terhadap karya sastra, yang bertujuan melindungi sastrawan , para pujangga dan para seniman. Pada pemerintahannya, Mpu Kanwa menuliskan sastra Arjuna Wiwaha. Ada juga seni wayang yang berkmabng dengan baik. Cerita pewayangannya terkadang mengambil sastra Ramayana dan Mahabharata yang sudah dipengaruhi dengan budaya Jawa. 3. Kehidupan Agama Kerajaan Medang Latar belakang Mpu Sindok yang masih keturunan Sanjaya, yang dimana buyutnya beragama Hindu Siwa. Jadinya Mpu Sindok menganut agama Hindu dengan aliran Siwa. Maka Kerajaan Medang yang dipimpin Mpu Sindok beragama Hindu Siwa. Dan saat pemerintahan Raja Airlangga, Kerajaan Medang diketahui beragama Hindu Waisnawa. Hal ini berdasarkan dari penemuan arca Wisnu yang menaiki garuda. Diakhir pemerintahannya Airlangga mengundurkan diri, tapi sebelumnya ia membangun tempat bertapa untuk anaknya Sanggramawijaya di Pucangan. 4. Kehidupan Ekonomi Kerajaan Medang Mpu Sindok sengaja memindahkan kerajaannya di dekat Sungai Berantas. Yang bertujuan agar rakyatnya bisa menjadi nelayan, dan menjadi daerahnya sebagai pusat pelayaran dan perdagangan di Jawa Timur. Saat Dharmawangsa, menjadi rasa perdagangan Kerajaan Medang menjadi lebih terkenal bahkan hingga keluar Jawa. Bahkan jadi pusat pelayaran di Indonesia Timur. Sayangnya, karena penyerangan yang terjadi pada Kerajaan Medang yang dilakukan Raja Wurawari. Perekonomian kerajaan tersebut jadi kacau. Masa Kejayaan Kerajaan Medang Masa Kejayaan Medang terjadi saat Raja Airlangga yang berkuasa. Raja Airlangga jagalah yang jadi raja terkenal di Kerajaan Medang. Hal tersebut tertuang dalam sastra karya Mpu Kanwa dengan judul Arjuna Wiwaha. Berhasil mengalahkan kerajaan di sekitar wilayahnya Airlangga semakin berusaha dengan keras memulihkan kewibawaan kerajaannya. Airlangga juga berhasil memindahkan pusat pemerintahannya ke Kahuripan. Usaha-usaha yang dilakukan Raja Airlangga untuk meningkatkan kemakmuran kerajaannya sebagai berikut Membangun Waduk Waringin Sapta untuk mencegah terjadinya banjir musiman. Membangun jalan-jalan yang menjadi penghubung pasar pesisir ke pusat kerajaan. Melakukan perbaikan pelabuhan hujung Galuh, di muara Kali Brantas. Penyebab Runtuhnya Kerajaan Medang Keruntuhan pada Kerajaan Medang saat Airlangga memilih untuk menjadi seorang pertapa. Pulang dari persembunyiannya Airlangga lalu menikahi seorang putri dari Kerajaan Sriwijaya yaitu putri Sanggramawijaya. Pernikahan politik itu dimanfaatkan sebaik mungkin. Diantaranya yaitu untuk keamanan dan agar dia bisa leluasa membangun kerajaannya. Pada masa tuanya Raja Airlangga akhir mengundurkan diri sebagai raja dan memilih menjadi pertapa. Ia bertapa dan mendalami agama Wisnhu di Gunung Penanggungan. Putri Mahkota Raja Airlangga yaitu Sanggramawijaya Tunggadewi Prasassti Turun Hyang 1035 menolak menjadi raja dan mengikuti jejak sang ayah menjadi pertapa. Akhirnya Raja Airlangga membagi dua kerajaan yang di berikan pada dua putranya dari selirnya. Sri Samarawijaya berhak atas kerajaan sebelah barat di sebut Kadiri dengan ibukota Daha. Dan untuk Mapanji Garasakan menguasai kerajaan timur di sebut Janggala dengan ibukota Kahuripan. Sumber Sejarah Kerajaan Medang Kejayaan kerajaan yang jadi pernah jadi kerajaan terbesar di Pulau Jawa ini dapat di lihat dari sumber sejarahnya sebahai berikut 1. Prasasti Mpu Sindok sumber Prasasti ini terkadang dikenal dengan nama Prasasti Cunggrang, terletak di pendapa mungil di Dusun Sukci, Desa Bulusari, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan. Prasasti ni terbuat dari batu andesit dengan ketebalan 10 cm. Prasasti Mpu Sindok membuat prasasti pada 929 M dengan tulisan bahasa sansekerta. Berfungsi mengungkap silsilah Mpu Sindok sebagai raja pertama Kerajaan Medang. Prasasti Cunggrang termasuk prasasti tertua yang pernah ditemukan. 2. Prasasti Tengaran sumber Prasasti Tengaran kadang juga disebut Prasasti Geweg, sebab dahulu Geweg adalah kuno dari Tengaran. Prasasti Tengaran terletak di Desa Tengaran, Kecamatan Peterongan, Kabupaten Jombang. Untuk melihat Prasasti Tengaran, harus melewati persawahan karena. Isi dari prasasti ini menegaskan bahwa Mpu Sindok,bisa memimpin Kerajaan Medang karena adanya bantuan dari istrinya, Sri Wardhani. 3. Prasasti Lor sumber Kadang juga disebut Prasasti Anjuk Ladang. Prasasti Lor ditemukan di reruntuhan Candi Lor Desa Candirejo, Kecamatan Loceret, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur. Prasasti Lor berbentuk piagam batu yang dibuat pada tahun 935 M. Hanya bagian atasnya saja dari tulisannya yang dapat dibaca. Dari penelitian yang ada isi prasasti tersebut yaitu jasa Mpu Sindok yang menghalau pasukan Kerajaan Sriwijaya terhadap Kerajaan Mataram Kuno 4. Prasasti Bangil Prasasti Bangil berisikan perintah Mpu Sindok untuk membuat sebuah candi sebagai tempat peristirahatan mertuanya. Mpu Sindok sendirilah yang mengawasi pembangunan candi untuk mertuanya Rakyan Bawang. 5. Prasasti Kalkuta sumber Nama asli dari Prasasti Kalkuta yaitu Prasasti Pucangan yang ditemukan 1042 M. Prasasti Pucangan menjelaskan peristiwa penyerangan yang terjadi pada masa pemerintahan Sri Maharaja Isana Dharmawangsa Teguh Anantawikramottunggadewa. Peristiwa yang menewaskan Dharmawangsa, serta keluarganya. Dalam prasasti tersebut juga menjelaskan para raja dan silsilah Kerajaan Medang yang ditulis dalam bahasa Jawa Kuno dan bahasa Sansekerta. 6. Berita dari Cina Berita dari Cina berasal dari catatan-catatan yang pernah ditulis ketika zaman Dinasti Sung. Berdasarkan catatan tersebut diceritakan bahwa terjadi permusuhan atau konflik antara kerajaan Jawa dengan Kerajaan Sriwijaya. Tidak hanya itu, dijelaskan pula bahwa duta Kerajaan Sriwijaya yang akan kembali pada tahun 990 masehi harus tinggal terlebih dahulu di Campa hingga perang usai. 7. Berita dari India Berita dari India ini menjelaskan tentang Kerajaan Sriwjaya yang memiliki hubungan baik dengan Kerajaan Chola. Tujuan dari hubungan ini tidak lain untuk menghalangi Kerajaan Medang Kamulan mencapai kejayaannya dan menjadi lebih maju pada masa pemerintahan Raja Dharmawangsa Teguh. Peninggalan Kerajaan Medang Bentuk peninggalan Kerajaan Medang Kamulan beragam dengan corak dan bentuknya. Dan tersebar di Jawa Tengah dan Jawa Timur. 1. Prasasti Kalasan sumber Prasasti Kalasan yaitu prasasti yang ditemukan di Desa Kalasan, Daerah Istimewa Yogyakarta pada tahun 1886. Prasasti yang berisikan perintah pembuatan bangunan suci untuk Dewi Tara Candi Kalasan. Hal tersebut karena keluarga raja Syailendra Buyut Mpu Sindok berhasil membujuk Maharaja Dyah Pancapana Kariyana Panangkarana untuk membuatkan bangunan suci yang di inginkan sang raja. Prasasti Kalasan ditulis dalam dengan berbahasa Sansekerta dan aksara Pranagari India Utara. 2. Prasasti Ratu Boko sumber Prasasti Ratu Boko ditemukan bersamaan dengan Situs Ratu Boko di Yogyakarta. Nama sebenarnya dari Prasasti Ratu Boko yakni Prasasti Abhayagiriwihara yang dibuat pada 792 M. Isi prasasti tersebut, membahas pembangunan Keraton Ratu Boko yang di bangun oleh Rakai Panangkaran, dengan tulisan aksara Pranagari India Utara. 3. Prasasti Kedu Mantyasih sumber Banyak penyebutan tentang Prasasti ini. Ada yang menyebutkan Prasasti Tembaga Kedu, Prasasti Balitung dan Prasasti Mantyasih yang diukir pada 907 M. Prasasti Tembaga Kedu ditemukan Mateseh, Magelang Utara, Jawa Tengah yang berisikan silsilah Kerajaan Mataram Kuno sebelum Raja Balitung. 4. Candi Pawon sumber Candi Pawon adalah salah satu Candi Budha yang didirikan Dinasti Syailendra. Berfungsi sebagai tempat penyimpanan abu jenazah Raja Indra yang wafat pada 812 M, yang adalah ayah Raja Samarrattungga dari Dinasti Syailendra. Candi Pawon berada di antara Candi Borobudur dan Candi Mendut, yang ada di Brojonalan, kelurahan Wanurejo, kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. 5. Candi Sewu sumber Candi Sewu atau Manjusrigrha adalah candi kedua terbesar setelah candi Borobudur di Magelang Jawa Tengah dengan corak candi Budha dan di bangun pada abad ke-8 M. Candi Sewu berada Candi Sewu terletak di Kabupaten Klaten Jawa Tengah, tepatnya di Kecamatan Prambanan yang menghadap ke Utara. Lokasinya tak jauh dari Candi Prambanan, hanya berjarak 800 meter. Walaupun namanya Candi Sewu yang artinya Candi Seribu, kenyataannya candi di sana hanya berjumlah 249 candi. 6. Candi Mendut sumber Candi Mendut berada di Jalan Mayor Kusen Kota Mungkid, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Lokasinya tidak jauh dari Candi Borobudur yaitu sekitar 3 kilometer. Candi Mendut dan Candi Pawon dipercaya memiliki kaitan erat karena sama-sama candi yang bercorak Candi Budha. Tidak ada yang tahu pasti kapan Candi Mendut di bangun, yang hanya perkiraan sekitar tahun 824 M dan ditemukan pada 1836. Karena saat penemuan pertama kalinya bangunan candi ini kurang lengkap maka pada 1897-1904 dilakukan pemugaran oleh pemerintah Hindia-Belanda. 7. Candi Bima sumber Candi Bima adalah candi dengan arsitektur yang mirip dengan candi yang ada di India, terletak di Desa Dieng Kulon, Banjarnegara, Jawa Tengah. Candi Bima Dieng memiliki ketinggian 8 meter dan disetiap dindingnya ada arca kudu yang menyimbolkan kemegahan sebagai salah satu situs purbakala yang ada di Dieng. 8. Candi Semar sumber Candi Semar dianggap sebagai pendamping Candi Arjuna,yang berada di Karangsari, Dieng Kulon, Batur, Banjarnegara, Jawa Tengah. Candi Semar berada tepat di depan Candi Arjuna, dengan bentuk empat persegi panjang berukuran 7 x meter. Tapi kepala candi sudah tidak ditemukan dan tidak dilakukan pemugaran. Konon dahulu Candi Semar berfungsi sebagai tempat penyimpanan senjata. 9. Candi Puntadewa sumber Berada di Komplek Candi Arjuna, Candi Puntawalah yang jadi tertinggi yaitu dengan tinggi m. Bahan pembuatan Candi Puntadewa dari batu andesit yang langkah tapi kokoh hingga saat ini. Hebatnya candi tersebut memiliki candi pelengkap atau candi pewara seperti dua tumpukan batu dengan ujung yang lancip. Didalamnya tidak terdapat arca seperti candi lain melainkan hanya ada yoni. 10. Candi Arjuna sumber Candi Arjuna merupakan candi yang bercorak Hindu, berada di paling utara Komplek Candi Arjuna di Desa Dieng Kulon, Banjarnegara, Jawa Tengah. Pada Candi Arjuna terdapat anak tangga, dengan ujungnya berbentuk kepala naga dan pahatan reliefnya sama seperti candi Hindu lainnya. Di dalam bilik Candi Arjuna terdapat yoni yang berfungsi seperti meja untuk meletakkan sesaji. 11. Candi Srikandi sumber Pembangun Candi Srikandi awalnya bertujuan untuk dipersembahkan kepada Tri Murti dalam agama Hindu. Candi Srikandi berada satu komplek dengan Candi Arjuna, dengan ketinggian setengah meter dan bilik di dalamnya yang kosong. 12. Candi Borobudur sumber Pendiri Candi Borobudur adalah Syailendra yang menganut Budha Mahayana. Candi Borobudur adalah candi Budha terbesar di Indonesia dan Dunia yang telah diresmikan UNESCO sebagai situs warisan dunia. Terdiri dari 6 teras segi empat dan tiga pelataran melingkar di bagian atasnya dengan dihiasi 50 arca Budha dan panel relief. 13. Situs Medang sumber Peninggalan terbaru dari Kerajaan Medang ditemukan di sebuah sawah Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Penemuan tersebut yaitu sebuah Lesung Kuno dengan lebar 150 cm, panjang 170 cm dan tinggi 100 cm. Awalnya pemilik sawah dan anaknya berniat mencari emas atau benda peninggalan Kerajaan Medang yang biasa ditemukan warga di sekitar Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus. Kerajaan Medang atau Kerajaan Medang Kamulan akhirnya terbagi dua pada awal abad ke-11. Jadi kerajaan dengan peninggalan dan sumber sejarah yang masih dilihat sampai sekarang. Kendati begitu, ada kerajaan terakhir di Jawa Timur bernama Kerajaan Blambangan yang juga perlu kamu pelajari sejarahnya.

kehidupan sosial kerajaan medang kamulan